Jumat, 20 Juli 2018 Lagi kesel

Hari ini gue kesel, kesel banget.

Waktu yang selama ini gue tunggu-tunggu, waktu yang selama ini gue nanti-nanti malah bikin gue kecewa sekecewa cewanya

Minggu-minggu terakhir, sebelum akhir semester genap ini berakhir gue lagi rajin-rajinnya nyusun skripsi. Tidur gue kurangin, semua referensi udah gue hafalin, revisi gue kerjain dikasih revisi lagi gue kerjain lagi dikasih lagi masih gue kerjain dan sampe gue mau makan cuma kalo lagi laper doang.

Bolak-balik kampus, buat ketemu pembimbing. Bolak-balik perpus buat cari pendamping.

Hari selasa. Hari setelah senin, gue ketemu sama dosbing 1. Semua lancar,  gue cuma dikasih tau ada beberapa yang masih perlu ditambahkan untuk bab 2 nya. Dia kasih gue, referensi yang harus dimasukin ke dalamnya. Oke, gue masukin.

Lusanya, di hari kamis. Gue kasih ke dia hasil revisianya, dia minta ijin buat bawa skripsi gue pulang. Mau dibaca dulu, katanya.

Kemudian, ketemu lagi di hari selasa. Karena memang jadwal dia di kampus cuma hari selasa dan kamis. Orang sibuk. Dibalikin lagi skripsi gue dengan sedikit catatan. Setelah itu gue janji itu bakal gue perbaiki. Lalu, dengan sedikit berani gue minta ijin buat minta tanda tanganya di form bimbingan gue yang masih kosong itu. Dia langsung kasih 6 tanda tangan. Tanggalnya nanti kamu sesuaikan aja ya, kata dia. Gue seneng banget karena ini adalah minggu terakhir sebelum pendaftaraan untuk sidang skripsi ditutup dan akhirnya urusan dengan dosbing 1 udah kelar.

Di hari yang sama setelah gue dapet tanda tangan dari dosbing 1, gue langsung hubungin dosbing 2 buat ngajak bimbingan. Ternyata dia ngga bisa, lagi rapat katanya. Gue tanya lagi kapan bisanya, dia jawab besok jam 8.

Besoknya hari rabu. Gue kesiangan. Janjian jam 8 ketemunya jam 10. Di hari ini gue cuma kasih tau tentang udah sejauh mana perkembangan skripsi punya gue. Gue bilang, dosbing 1 udah setujui skripsi gue untuk lanjut ke tahap selanjutnya yaitu sidang. Oh, coba kamu baca dulu tujuan penelitiannya kata dia. Terus gue bacain. Masih ada yang kurang, kata dia. Sampe akhirnya gue dikasih revisi.

Di hari kamis. Ketemu lagi dosbing 2. Gue kasih revisianya gue baca lagi tujuan penelitianya dari awal sampai akhir. Gue jelasin lagi mulai dari bab 4 sampai tujuan penelitian. Hmmm. Masih ada yang kurang, katanya. Di bab 4 dan 5 masih ada yang kurang dan perlu ditambahi. Oke, kata gue. Di hari ini kurang lebih 3 jam gue bimbingan, bukan record yang terlama karena jauh sebelumnya ada yang lebih lama lagi.

Besoknya hari jumat. Hari dimana tulisan ini gue buat. Hari terakhir karena besoknya hari sabtu dosbing 2 ngga ke kampus sehingga menjadi hari terakhir buat gue bimbingan sebelum besok sabtunya gue punya niat buat daftar maju sidang skripsi.

Di tiga hari terakhir, sejak gue bimbingan bareng dosbing 2. Gue jarang tidur, begadang sampe pagi kerjain revisi. Jangan suuzon ya saya ini bukan mau pamer.

Masih di hari jumat, gue masih optimis bisa daftar sidang besok walaupun gue masih belum bikin daftar isi dan lain-lainnya itu. Gue ngomong di dalem hati yang penting skripsinya dulu gue kelarin.

Dimulai jam 10. Bimbingan ngebahas tentang bab 4 - 5. Gue jelasin apa yang gue tulis dan apa yang termaksud di dalamnya. Dosbing 2 kasih masukan, gue setujui atas masukannya. Bimbingan harus terpotong karena sudah ada azan untuk solat jumat. Gue tanya, dosbing 2 sampai jam berapa ada di kampus. Dia jawab sampai jam 4. Terus gue bilang nanti jam 2 mau ketemu dengan membawa hasil skripsi yang udah diperbaiki sesuai dengan sarannya. Baik, saya tunggu kata dia.

Jarum jam digital gue udah menunjukan waktu 14.00. Gue langsung inisiatif dateng ke ruangannya dan ternyata sudah ada 3 setelah gue masuk jadi ada 4 mahasiswa yang sedang antre untuk minta tanda tangan buat maju sidang. Giliran gue dipanggil, dan ternyata harus bawa hardcopynya kalau mau minta tanda tangan dosbing 2. Oke, gue lari ke tukang print, buka email lalu klik ctrl+p setelahnya gue lari lagi ke ruangan dosbing 2.

Belum gue kasih, tapi dia udah liat dari kejauhan.

Udah di-print skripsinya?

Udah

Lho, kok dikit sekali?

Ini sudah paling maksimal

Dia pegang skripsi gue, dibolak-balik diris tipis-tipis angkat lalu tiriskan.

Kamu punya buku panduan penelitian?

Ngga

Ini ngga sesuai, jumlah halamanya terlalu sedikit untuk sebuah penelitian kualitatif

Tapi, di luar negeri ada kok suatu penelitian yang isinya cuma 2 lembar aja

Itukan di luar negeri, kamu sekarang lagi ada di mana?

Oke

Coba kamu tanya dulu ke kaprodi, skripsi kamu ini diperbolehkan ngga

Di sini rasa optimis gue udah mulai terkikis, senyum gue udah mulai habis, gue berjalan keluar ruangan dengan sangat berat sambil gue liat-liat skripsi yang gue bawa sambil mengingat-ingat kenangan-kenangan bersamanya. Dari keujanan bareng sehabis ketemu dosbing 1 di luar kampus, tidur bareng, gue bawa mudik ke kampung halaman, gue rawat skripsi gue ini lebih dari motor yang gue punya dengan harapan esok bisa gue bawa maju di ruang sidang.

Di hadapan kaprodi gue ngga bisa apa-apa. Entah kenapa setiap argumen gue bisa dia sangkal. Pinter memang kaprodi gue. Dia itu insyinyur. Setiap omongan yang keluar dari mulutnya gue dengerin baik-baik sampai pada titik akhirnya dia bilang

Skripsi ini ngga bisa dilanjut

Kamu harus tambahkan dulu halamanya supaya sesuai dengan pedoman yang ada

Penelitian kualitatif ini penelitian yang susah, harus ada penjelasan di setiap  istilahnya

Gue diem. Kuping gue panas. Kepala gue berat. Bibir gue geter. Mata gue berkaca-kaca. Impian gue buat maju sidang esok langsung hilang seketika. Harapan-harapan dari orang tua terasa lebih berat dari sebelumnya. Usaha-usaha gue terasa sia-sia di hari ini.

Gue berjalan keluar ruangan kaprodi dengan langkah yang lebih berat dari sebelumnya. Tujuan gue bukan ke ruangan dosbing 2 buat laporin hasil pertemuan gue dengan kaprodi karena gue pikir mereka sudah tau jawabanya

Gue pulang.

Senin, 02 Mei 2016 IPK tinggi tidak mempengaruhi kesuksesan, apalagi IPK yang kecil

Tanggal 2 mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Dunia pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya guru, seperti pepatah yunani kuno pernah berkata bahwa "Kita harus belajar dari Pak pengalaman karna Pak pengalaman adalah guru terbaik"

Gue sendiri sudah masuk di dunia pendidikan dari usia 6 tahun, pada saat itu status gue masih sebagai siswa SD sampai dengan saat ini status gue masih (maha)siswa. Awal gue dapat gelar mahasiswa sebenernya antara nyangka dan engga karena sebelumnya kuliah itu cuma mimpi buat gue akibat seringnya nonton ftv pada saat itu, sampai akhirnya orang tua memutuskan untuk kuliah gue terharu dan seneng banget. Tapi.. setelah gue masuk kuliah ternyata apa yang gue impikan dan apa yang terjadi di dunia nyata itu berbeda,  kuliah itu ngga seenak di ftv bro. Ketika kuliah hal yang pasti menghantui seorang mahasiswa adalah nilai ipk-nya

Bicara ipk hal yang sensitif buat mahasiswa, apalagi yang ipknya kecil ditanya dikit langsung pura-pura mengalihkan perhatian..

"Ngomong-ngomong ipk lu berapa?"
"Eeergh.. aaaa.. Wih ada cicak naik ufo tuh di atas!!"
"Mana-mana??!!"
"Yahh udah pergi, eh btw semalem emyu kalah lho.."
"...."

Beda dengan mahasiswa yang cumlaude dengan gaya rendah hati yang dibuat-buat dengan hasil transkrip nilai diupload di media sosialnya.

Hak untuk bangga dan tidak terhadap ipk memang adalah hak setiap warga negara. Namun perlu diingat bahwa memang baik meningkatkan nilai ipk, tapi lebih baik meningkatkan iman dan takwa *benerin peci*.

Aturan di kampus gue nilai ipk didapat dari akumulasi penilaian kuantitatif dari nilai tugas individu, tugas kelompok, kuis, uts dan uas yang rasio persentase pembagian nilainya berbeda setiap dosen. Tapi, yang gue bingung selama ini apakah itung-itungan yang kaya gitu dilakukan dengan ketat dan tepat? Hmm.. hanya tuhan dan dosen yang tau. Adanya ipk memang berfungsi untuk menjadi alat tolak ukur menilai kecerdasan berpikir seorang mahasiswa di kampus itu sejalan dengan pemikiran bahwa sesuatu yang tidak bisa diukur, tidak tampak dan tidak terlihat hanyalah ilusi sebab mereka baru percaya bahwa seseorang baru paham suatu mata kuliah jika ada indikatornya.

Untungnya orang tua gue tipe orang tua yang ngga terlalu memaksakan anaknya untuk mendapatkan nilai cumlaude  walaupun gue tau di hati kecil mereka sebenernya pengin liat anaknya ini berprestasi di akademiknya. Huhuhu maafkan anakmu ini, Ma..

Gue sendiri sering blogwalking tentang mahasiswa-mahasiswa yang berhasil bangkit dari keterpurukan nilai ipk-nya tujuannya untuk memotivasi diri sendiri bahwa gue ngga hidup sendirian di dunia perkuliahan yang kejam ini. Haha

Erica Goldson pernah berkata di dalam pidato kelulusannya bahwa "Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada."

Artinya adalah menurut Erica Goldson untuk mendapatkan nilai bagus mahasiswa hanya harus melakukan hal yang sangat sederhana: turuti dosen. Kalau bisa, lakukan lebih dari yang mereka minta.

Apa yang gue lakukan di kampus saat ini memang belum memenuhi itu walaupun gue masih berusaha dengan menuruti apa yang dosen mau. Berangkat kuliah yang rajin, gue udah berangkat dari subuh. Disuruh buat makalah, gue buat. Dikasih tugas menganalisis artikel, gue kerjain. Bikin presentasi, yang ini emang gue jarang bikin karna ini. Huhuhu

Kuliah ini memang terlalu sayang kalo cuma buat ngejar ipk. Kesannya bahwa masa depan akan jadi lebih baik setelah lu mendapat nilai ipk yang tinggi. Dunia ngga sebercanda itu bro. Beberapa perusahaan memang membuat syarat yang ketat pada saat membuka lowongan pekerjaan, salah satunya ipk yang harus di atas 2,75 itu adalah strategi mereka untuk merekrut mahasiswa yang tidak malas. Karna seperti yang Erica Goldson bilang tadi yang intinya ya itu.

Sebenernya apapun jalan yang kita tempuh akan menghasilkan hasil yang baik jika konsisten. Karena hakikatnya setiap mahasiswa mempunyai mimpi yang berbeda-beda setelah lulus dari kuliahnya.

Minggu, 17 April 2016 Surat terbuka untuk maling

Beberapa hari yang lalu kamar kos gue kemalingan. Netbook gue ilang. Entah apa yang ada di pikiran si maling sampe-sampe dia berani nekat ngambil barang yang bukan miliknya itu, padahal kalau maling itu mau nabung sebenernya dia juga bisa beli netbook kaya punya gue itu bahkan lebih baru dan bagus.

Ngehe emang nih maling.

Gue sendiri ngga tau kapan tepatnya netbook gue itu ilang, karna gue baru ngeh pas isya kalo netbook gue ternyata ngga ada di tempat terakhir gue naro netbook tersebut (kok gue banyak banget ngomong "netbook" sih? Bodo amat)

Setelah gue ngeh kalo ternyata netbook gue ilang, hal yang pertama gue lakukan adalah...

Pergi umroh, hmm.

Gue lapor ke pemilik kosan, dan dia pun bingung kenapa bisa ada kejadian kaya gini. Gue pun ikut bingung ngeliat pemilik kosan bingung. Akhirnya, kami pun bingung bersama-sama. Karena ngga ada solusi dari pemilik kos, gue pun inisiatif buat lapor kasus ini kepolisian. Sampai di kantor polisi gue pun diintrogasi, untuk pertama kalinya gue diintrogasi polisi rasanya kaya lagi diintrogasi sama polisi. Dengan lapor ke polisi gue berharap netbook gue itu bisa ketemu, tapi kenyataanya sampai detik ini belum ada kabar dari kantor polisi tentang keberadaan netbook gue :'(

Di kosan gue sendiri baru pertama kali ada kejadian kemalingan kaya gini, kosan gue terbilang masih baru di kawasan daerah perkosan di belakang kampus, sebelum-sebelumnya belum pernah ada kejadian kemalingan di kos gue karena itu kejadian kemalingan ini adalah yang pertama kali di kosan gue.

Kok gue ngomongnya dibolak-balik gini? Bodo amat.

Kejadian seperti ini sebenernya ngga akan terjadi kalo pemerintah peduli dengan keadaan ekonomi rakyatnya khususnya rakyat indekos, mereka (pemerintah) terlalu fokus dengan pencitraan relokasi kalijodoh dan kasus saipul jamil tanpa memperhatikan bahwa rakyat yang indekos tersebut butuh perhatian khususnya pada akhir bulan.

Selain pemerintah dan kepolisian, peran penting masyarakat juga dibutuhkan dalam menjaga keamanan negara ini khususnya tempat kos-kosan dari serangan maling-maling yang tidak bertanggung jawab.

Melihat kasus kemalingan yang gue alami beberapa hari yang lalu itu, gue sempet berpikir "Sebenernya apa sih tujuan si maling itu ngambil netbook gue?" Gak mungkin kalo dia cuma pengen netbook gue doang, karena kalo cuma pengen netbook kaya gue dia ngga perlu melakukan aksi maling yang membutuhkan keberanian dan penuh resiko itu. Seperti yang gue bilang di awal, sebenernya kalo si maling punya keinginan untuk punya netbook dia bisa aja nabung atau bisa juga ambil kredit netbook/laptop apalagi sekarang kredit netbook/laptop itu murah-murah. Modal 360 ribu juga udah bisa dapet Macbook pro? Eh iya ngga sih, hmm. Cuma 360 ribu doang sih ngga mahal-mahal banget lah. Ngutang aja dulu buat bayar DP. Yang penting jangan lupa bayar kalo udah punya duit.

Gue yakin, maling ini punya tujuan lebih besar dari hanya sekedar mendapatkan netbook. Tapi, apa? Hmm, mungkin caper.

Sebelum menutup tulisan ini, gue cuma berpesan buat kalian khususnya anak kos agar lebih berhati-hati lagi dalam hidup berkos-kosan, lebih waspada dan jangan lengah untuk tidak mengunci pintu pada saat akan pergi keluar. Karena seperti pesan Bang Napi "Kemalingan bisa terjadi bukan saja karena ada niat si maling, tapi kemalingan juga bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah!!"

Dan terakhir, izinkan gue untuk menulis surat terbuka ini untuk si maling.

Dear calon maling dan maling..

Berhentilah untuk berpikir maling apalagi untuk maling..

Untuk apasih kalian maling?

Carilah pekerjaan lain selain maling..

Karena masih banyak pekerjaan yang halal selain maling..

Tidak kah kalian berpikir sebelum maling, bahwa apa yang kalian lakukan sangat merugikan bagi yang kalian maling..

Bertobatlah, maling..

Dengan mengambil hak orang lain tanpa izin, kalian tidak akan pernah jadi  pribadi yang lebih baik lagi..

Bayangkan jika kalian berada di posisi korban..

Semoga Tuhan, memaafkan kalian :)







Minggu, 03 Januari 2016 Alasan Untuk Makan Di Warteg



Hallo gue faiz, ngga suka pake jam tangan lebih suka pake rawit enak banget apalagi dimakan sama indomi. Di suatu hari yang cerah ketika itu gue ngerasain hal yang aneh, perut gue keroncongan dan gue ngerasa lemes banget kaya belum makan dari pagi. Gue panik, gue takut kalo ini adalah gejala suatu penyakit aneh yang belum ditemukan obatnya oleh ilmuan dalam keadaan panik itu akhirnya gue memutuskan untuk search di google apa yang gue rasain dan gue menemukan jawaban kalo yang gue rasain itu namanya “lapar”. Gue lega banget ternyata itu bukan nama suatu penyakit.

Pepatah romawi kuno pernah berkata “ketika kamu sedang lapar obatnya adalah makan niscaya kamu akan kenyang”

Di tengah kebingungan mau makan apa dan dimana akhirnya gue memilh warteg sebagai tempat untuk memuasakan nafsu makan. Banyak yang beranggapan kalo warteg itu tempatnya engga asik, kampungan, antek zionis, kafir, konspirasi amerika, salah jokowi, emyu tolol.

Nah biar kalian ngga ikut bingung juga ketika laper harus makan dimana, berikut gue kasih tau alesanya kenapa lo harus milih warteg secara harfiah:
          1.       Warteg ada dimana-mana
Dimana mana itu ada warteg. Lo jalan keluar gang ada warteg, pergi ke rumah makan padang di sampingnya ada warteg sampai di warteg pun ada warteg alias aspaan sih ngga jelas banget gue.

          2.       Murah
Warteg emang identic dengan harganya yang murah tapi ngga murahan. Ketika pergi ke kaefci cuma  bawa duit 20ribu lo cuma dapet nasi putih + ayam + minum  bandingin sama di warteg dengan harga yang sama lo bisa dapet mba-mba pelayannya lebih banyak pilihannya; nasi putih + ayam goreng + tempe orek + perkedel + sayur + es the manis, itu juga masih ada kembaliannya. Sama-sama kenyang tapi gengsi udah bedain harganya jauh sekali.

          3.       Bisa naikin satu kaki ke kursi
Ini penting, karena cuma di warteg lo bisa begitu tanpa gengsi ke orang-orang yang ada disekitar lo. Gaya ini emang cuma pas kalo lagi makan di warteg, seakan dunia ini hanya ada lo sama abang warteg lalu terdengar backsound dari Raisa – Terjebak nostalgia. Tapi inget, yang dinaikin ke kursi itu kaki sendiri bukan kaki orang tua apalagi kaki yang dagang warteg.

          4.       Presiden aja makan di warteg
                                   
                             

                                                [Pic via Detik.com] 
   
Presiden kita aja Pak jokowi pernah makan di warteg. Padahal dia bisa asal tunjuk kalo mau makan apa dan dimana, dia ngga gengsi, ngga malu, ngga takut dihujat khayalak ramai.
Karena dijaman yang semuanya sudah ada ini manusia lebih menjaga gengsinya hanya karna sebuah reputasi, padahal mah aspaan ya allah gue bingung ini lagi ngomong apaa..

Intinya yaitu ngga ada bahagia itu sederhana tapi ngga sesederhana harga makanan di rumah makan sederhana. Jadi, kalo mau makan di warteg aja.

Sabtu, 02 Januari 2016 Kebahagiaan Dari Masa Kecil

                                                                 
                                           [Pic via Google]


Hallo, gue faiz suka makan indomie goreng. Sekarang itu lagi musim hujan paling enak makan omongan temen indomie, seperti Rene Descartes pernah bilang disuatu malam ketika itu hujan turun lagi di bawah payung hitam ku berlindung uwoooo bahwa “Aku makan maka aku kenyang”. Ya bener banget, ketika kita makan pasti akan ada efek samping yang di dalam dunia kedokteran biasa disebut kenyang.

Gue mau cerita tentang kisah nyata dimana waktu itu gue masih kecil. Kecil di sini maksudnya kecil ya, kalian jangan berpikir negative dulu. Jadi ini tuh pengalaman pribadi gue gituuu. Cerita ini udah gue terjemahin ke Bahasa Indonesia biar yang baca bingung ngerti maksudnya.

“Woi Iz, ujan-ujanan yuk..” 

Terdengar suara teriakan dari luar rumah gue dari suaranya sih gue tau kalo itu Bayu, temen kecil gue di kampung. Gue pun bangun dari depan tipi buat liat ke depan apa itu bener bayu. Gue buka pintu terus gue liat kanan kiri kok ngga ada orang ternyata pas gue liat ke rumah tetangga di depan rumah gue si Bayu lagi berdiri sambil mau ketok pintu.

“Woi.. Yu, ngapain lu di situ? Rumah gue di sini!!!” Teriak gue
“Wah Iz... Rumah lu udah pindah ya?” Tanya Bayu dengan muka polos dan ingus yang keluar masuk dari hidungnya. 
“Ada apa Yu?”
“Main ujan-ujanan yuk, Iz” Sebuah ajakan dari bayu seakan akan dia lupa kalo hari itu cuaca masih mendung dan belum ujan.
“Tapi kan ini belum ujan yu, tapi ayo deh..” Jawab gue dengan semangat mau ujan-ujanan

Pas gue jalan ke ujung gang ternyata temen-temen yang lain udah rame nungguin gue dan bayu buat ujan-ujanan kira-kira ada 10 bocah lah.

“Lama amat, Iz..” Suara Usup terdengar memecah suasana mendung saat itu
“Iya tadi Bayu salah rumah lagi..” Jawab gue seadanya

Hujan pun akhirnya turun sedikit demi sedikit alias gerimis dan semakin lama semakin besar. Acara ujan-ujanan pun dimulai dengan mandi di kali deket sekolah SD kami. Kali depan sekolah gue ini kira-kira lebarnya cuma 3 meteran gitu lah dan ngga terlalu dalem, warna airnya coklat susu milo. Gue sama temen-temen emang biasa kalo ujan-ujanan mandi di kali itu. Kami biasa  rame-rame berenang dengan bantuan batang pohon pisang dan main tahan napas yang paling lama yang menang di permaian ini gue biasanya yang menang soalnya yang lain pada tenggelemin kepalanya gue engga sampe akhirnya ketahuan dan gue ditenggelemin rame-rame.

Setelah selesai berenang di kali biasanya kami langsung nyari singkong di belakang sekolah buat di bakar dan  di makan rame-rame. For your fyi sekolah SD gue di kampung itu lokasinya berada di titik kordinat 6oLU 11oLS – 33oBT 45oBB alias di tengah persawahan gitu. Daerah persawahan emang tempat yang sempurna buat main gue dan temen-temen. Setelah kenyang dan melalui musyawarah untuk mufakat akhirnya kami pun memutuskan untuk main bola di tengah hujan yang mulai melambat. Kita bagi dua tim kelompok gue dan usup tim gue di kaptenin oleh si Jamroni dan tim Usup oleh dirinya sendiri, seperti permainan sepak bola umumnya anak kecil kami menggunakan sandal untuk gawang dan yang kalah suit lepas baju untuk mengetahui mana tim gue dan mana tim lawan. Permainan pun dimulai sampai dengan selesai.

Setelah selesai bermain bola, kami pun istirahat dan ada beberapa temen gue yang pulang duluan jadi tinggal kami berlima gue, usup, teguh, ripal dan brohim. Kami tidur-tiduran di tumpukan jerami sambil menatap langit nungguin layangan yang putus.

Persahabatan kami begitu sempurna, ngga pernah ada kepura-puraan di dalamnya semua begitu apa adanya, ngga ada yang ngomongin temen di belakang, ngga manfaatin temen buat keuntungan pribadi, ngga ada rasa sungkan atau malu sifat anak kecil yang ngomong jujur seadanya apa yang ada di kepala mereka. Hal-hal bodoh menurut logika orang dewasa tapi menyenangkan menurut imajinasi anak kecil.  Gue kangen itu J

Gue ngga suka orang sok dewasa yang cuma ngandelin logikanya , padahal hidup ini indah jika bisa dinikmati dengan bantuan imajinasi. Fuck you.

  

Rabu, 30 Desember 2015 Kalender Baruku





                                           [Pic via Google]


Sebentar lagi tahun yang baru akan datang untuk menggantikan tahun yang lama, waktu memang cepat berlalu sama seperti kentut datang dan perginya kadang suka tak terasa.

Disetiap perjalanan pasti akan meninggalkan cerita, tahun 2015 yang sebentar lagi akan habis sudah memberikan gue kenangan dan juga bahan renungan untuk menjalankan tahun baru yang akan datang. Kenangan yang bisa kita ceritakan lagi di kemudian hari sambil ngopi-ngopi bareng teman di warkop.

Event tahun baru juga waktu yang pas untuk kita mengintropeksikan diri supaya kita sadar diri dan ngga lupa diri. Di tahun 2015 ini memberikan banyak pelajaran buat gue bahwa masih banyak target tahunan yang belum tercapai sampai saat ini, itu menjadi bahan renungan buat gue supaya nanti di tahun yang baru gue ngga bangun siang dan tidur siang secara bersamaan lagi.

Disetiap tahun yang baru pasti akan ada kalender yang baru juga, artinya apa? kita harus beli kalender. Harapan gue di tahun 2016 masih sama kaya harapan gue di tahun 1995-2015 yaitu; Bernapas. Karena ketika lo udah ngga bernapas itu artinya lo udah mati dan bagaimana bisa orang yang sudah mati itu menjalankan aktivitas untuk mewujudkan target-target selama dia masih hidup. Gue sadar di tahun ini usaha buat mewujudkan target itu masih kurang keras. Gue lebih sering tidur dari pada beraksi, sehingga mimpi gue itu cuma jadi angan-angan belaka. Huft. 

Harapan-harapan baru yang muncul disetiap awal tahun datang bersamaan dengan semangat baru, tetapi belum sampai akhir tahun semangat itu redup atau bisa saja hilang tak berbekas dan akhirnya yang kita petik hanya kecewa. Harapan memang penting sebagai penunjuk jalan seseorang untuk mencapai kesuksesan dengan memiliki harapan kita tau apa yang perlu kita lakukan dan kita punya semangat untuk bangun pagi meninggalkan tempat tidur.   

Tahun yang baru bentar lagi datang dengan tantangan yang mungkin lebih berat lagi seiring bertambahnya usia maka tanggung jawab pun bertambah nantinya, gue ngga boleh males-malesan lagi gue harus selalu semangat. Hoaam.



   

Rabu, 09 Desember 2015 Kuliah Gue Biasa Aja

Kuliah lagi, kuliah lagi.
Kampus lagi, kampus lagi.
Ya mau gimana namanya juga mahasiswa ceritanya ya ngga jauh-jauh dari itu.

Gue ini termasuk mahasiswa biasa aja di kampus, pinter engga bodo juga engga tapi ganteng.

Kegiatan gue di kampus selain belajar, ya engga belajar.

Gue tuh kalo di kelas suka bosen kalo lagi dengerin dosen ngomong. Apalagi kalo ada dosen yang udah ngomongin tentang masalah pribadinya di kelas.

"Eh, anak-anak tau ngga sih Pak Irwan dosen yang ngajar mata kuliah pengantar ilmu mistis kalian itu, kemarin bapak ketemu dia di jalan sambil klakson-klakson segala gitu. Padahal dia lagi jalan kaki."

Eh tau engga sih?? Engga tau ya?? Yaudah gue kasih tau nih kalo di kampus gue tuh ada banyak Ormawa (Organisasi Mahasiswa), paduan suara salah satunya. Gue ikut, tapi bukan berarti gue bisa nyanyi. Gue cuma ikut-ikutan terbawa arus, sampai akhirnya gue tenggelam. Ini semua gara-gara Setya Novanto!!
Engga bisa nyanyi, ikut paduan suara. Kalau sampai Addie MS tau pasti dia kecewa. Maafkeun saya Mas Addie.

Sayang, (Eh, belum apa-apa udah panggil sayang-sayang aja. Makasih) di kampus gue engga ada Ormawa khusus untuk mahasiswa-mahasiswa yang ganteng. Kalau ada juga gue engga bakal masuk kriteria sih.

Eh tau juga engga sih?? Engga tau juga ya?? Nih gue kasih tau lagi di kampus gue juga banyak mahasiswi-mahasiswi cantiknya, mata gue aja sampe bingung bedain mana yang cantik sama biasa aja.
Raisa mah lewat, Isyana juga lewat. 
Iya, Mereka lewat depan kamus gue naik mobil. Kacanya item.

Nah, sekarang udah pada tau belom kalian dari tadi baca apa?? Bingung ya?? Sama.
 
Blogger Templates