Jumat, 20 Juli 2018 Lagi kesel
Senin, 02 Mei 2016 IPK tinggi tidak mempengaruhi kesuksesan, apalagi IPK yang kecil
Tanggal 2 mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Dunia pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya guru, seperti pepatah yunani kuno pernah berkata bahwa "Kita harus belajar dari Pak pengalaman karna Pak pengalaman adalah guru terbaik"
Gue sendiri sudah masuk di dunia pendidikan dari usia 6 tahun, pada saat itu status gue masih sebagai siswa SD sampai dengan saat ini status gue masih (maha)siswa. Awal gue dapat gelar mahasiswa sebenernya antara nyangka dan engga karena sebelumnya kuliah itu cuma mimpi buat gue akibat seringnya nonton ftv pada saat itu, sampai akhirnya orang tua memutuskan untuk kuliah gue terharu dan seneng banget. Tapi.. setelah gue masuk kuliah ternyata apa yang gue impikan dan apa yang terjadi di dunia nyata itu berbeda, kuliah itu ngga seenak di ftv bro. Ketika kuliah hal yang pasti menghantui seorang mahasiswa adalah nilai ipk-nya
Bicara ipk hal yang sensitif buat mahasiswa, apalagi yang ipknya kecil ditanya dikit langsung pura-pura mengalihkan perhatian..
"Ngomong-ngomong ipk lu berapa?"
"Eeergh.. aaaa.. Wih ada cicak naik ufo tuh di atas!!"
"Mana-mana??!!"
"Yahh udah pergi, eh btw semalem emyu kalah lho.."
"...."
Beda dengan mahasiswa yang cumlaude dengan gaya rendah hati yang dibuat-buat dengan hasil transkrip nilai diupload di media sosialnya.
Hak untuk bangga dan tidak terhadap ipk memang adalah hak setiap warga negara. Namun perlu diingat bahwa memang baik meningkatkan nilai ipk, tapi lebih baik meningkatkan iman dan takwa *benerin peci*.
Aturan di kampus gue nilai ipk didapat dari akumulasi penilaian kuantitatif dari nilai tugas individu, tugas kelompok, kuis, uts dan uas yang rasio persentase pembagian nilainya berbeda setiap dosen. Tapi, yang gue bingung selama ini apakah itung-itungan yang kaya gitu dilakukan dengan ketat dan tepat? Hmm.. hanya tuhan dan dosen yang tau. Adanya ipk memang berfungsi untuk menjadi alat tolak ukur menilai kecerdasan berpikir seorang mahasiswa di kampus itu sejalan dengan pemikiran bahwa sesuatu yang tidak bisa diukur, tidak tampak dan tidak terlihat hanyalah ilusi sebab mereka baru percaya bahwa seseorang baru paham suatu mata kuliah jika ada indikatornya.
Untungnya orang tua gue tipe orang tua yang ngga terlalu memaksakan anaknya untuk mendapatkan nilai cumlaude walaupun gue tau di hati kecil mereka sebenernya pengin liat anaknya ini berprestasi di akademiknya. Huhuhu maafkan anakmu ini, Ma..
Gue sendiri sering blogwalking tentang mahasiswa-mahasiswa yang berhasil bangkit dari keterpurukan nilai ipk-nya tujuannya untuk memotivasi diri sendiri bahwa gue ngga hidup sendirian di dunia perkuliahan yang kejam ini. Haha
Erica Goldson pernah berkata di dalam pidato kelulusannya bahwa "Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada."
Artinya adalah menurut Erica Goldson untuk mendapatkan nilai bagus mahasiswa hanya harus melakukan hal yang sangat sederhana: turuti dosen. Kalau bisa, lakukan lebih dari yang mereka minta.
Apa yang gue lakukan di kampus saat ini memang belum memenuhi itu walaupun gue masih berusaha dengan menuruti apa yang dosen mau. Berangkat kuliah yang rajin, gue udah berangkat dari subuh. Disuruh buat makalah, gue buat. Dikasih tugas menganalisis artikel, gue kerjain. Bikin presentasi, yang ini emang gue jarang bikin karna ini. Huhuhu
Kuliah ini memang terlalu sayang kalo cuma buat ngejar ipk. Kesannya bahwa masa depan akan jadi lebih baik setelah lu mendapat nilai ipk yang tinggi. Dunia ngga sebercanda itu bro. Beberapa perusahaan memang membuat syarat yang ketat pada saat membuka lowongan pekerjaan, salah satunya ipk yang harus di atas 2,75 itu adalah strategi mereka untuk merekrut mahasiswa yang tidak malas. Karna seperti yang Erica Goldson bilang tadi yang intinya ya itu.
Sebenernya apapun jalan yang kita tempuh akan menghasilkan hasil yang baik jika konsisten. Karena hakikatnya setiap mahasiswa mempunyai mimpi yang berbeda-beda setelah lulus dari kuliahnya.
Minggu, 17 April 2016 Surat terbuka untuk maling
Ngehe emang nih maling.
Gue sendiri ngga tau kapan tepatnya netbook gue itu ilang, karna gue baru ngeh pas isya kalo netbook gue ternyata ngga ada di tempat terakhir gue naro netbook tersebut (kok gue banyak banget ngomong "netbook" sih? Bodo amat)
Setelah gue ngeh kalo ternyata netbook gue ilang, hal yang pertama gue lakukan adalah...
Pergi umroh, hmm.
Gue lapor ke pemilik kosan, dan dia pun bingung kenapa bisa ada kejadian kaya gini. Gue pun ikut bingung ngeliat pemilik kosan bingung. Akhirnya, kami pun bingung bersama-sama. Karena ngga ada solusi dari pemilik kos, gue pun inisiatif buat lapor kasus ini kepolisian. Sampai di kantor polisi gue pun diintrogasi, untuk pertama kalinya gue diintrogasi polisi rasanya kaya lagi diintrogasi sama polisi. Dengan lapor ke polisi gue berharap netbook gue itu bisa ketemu, tapi kenyataanya sampai detik ini belum ada kabar dari kantor polisi tentang keberadaan netbook gue :'(
Di kosan gue sendiri baru pertama kali ada kejadian kemalingan kaya gini, kosan gue terbilang masih baru di kawasan daerah perkosan di belakang kampus, sebelum-sebelumnya belum pernah ada kejadian kemalingan di kos gue karena itu kejadian kemalingan ini adalah yang pertama kali di kosan gue.
Kok gue ngomongnya dibolak-balik gini? Bodo amat.
Kejadian seperti ini sebenernya ngga akan terjadi kalo pemerintah peduli dengan keadaan ekonomi rakyatnya khususnya rakyat indekos, mereka (pemerintah) terlalu fokus dengan pencitraan relokasi kalijodoh dan kasus saipul jamil tanpa memperhatikan bahwa rakyat yang indekos tersebut butuh perhatian khususnya pada akhir bulan.
Selain pemerintah dan kepolisian, peran penting masyarakat juga dibutuhkan dalam menjaga keamanan negara ini khususnya tempat kos-kosan dari serangan maling-maling yang tidak bertanggung jawab.
Melihat kasus kemalingan yang gue alami beberapa hari yang lalu itu, gue sempet berpikir "Sebenernya apa sih tujuan si maling itu ngambil netbook gue?" Gak mungkin kalo dia cuma pengen netbook gue doang, karena kalo cuma pengen netbook kaya gue dia ngga perlu melakukan aksi maling yang membutuhkan keberanian dan penuh resiko itu. Seperti yang gue bilang di awal, sebenernya kalo si maling punya keinginan untuk punya netbook dia bisa aja nabung atau bisa juga ambil kredit netbook/laptop apalagi sekarang kredit netbook/laptop itu murah-murah. Modal 360 ribu juga udah bisa dapet Macbook pro? Eh iya ngga sih, hmm. Cuma 360 ribu doang sih ngga mahal-mahal banget lah. Ngutang aja dulu buat bayar DP. Yang penting jangan lupa bayar kalo udah punya duit.
Gue yakin, maling ini punya tujuan lebih besar dari hanya sekedar mendapatkan netbook. Tapi, apa? Hmm, mungkin caper.
Sebelum menutup tulisan ini, gue cuma berpesan buat kalian khususnya anak kos agar lebih berhati-hati lagi dalam hidup berkos-kosan, lebih waspada dan jangan lengah untuk tidak mengunci pintu pada saat akan pergi keluar. Karena seperti pesan Bang Napi "Kemalingan bisa terjadi bukan saja karena ada niat si maling, tapi kemalingan juga bisa terjadi karena ada kesempatan. Waspadalah!!"
Dan terakhir, izinkan gue untuk menulis surat terbuka ini untuk si maling.
Dear calon maling dan maling..
Berhentilah untuk berpikir maling apalagi untuk maling..
Untuk apasih kalian maling?
Carilah pekerjaan lain selain maling..
Karena masih banyak pekerjaan yang halal selain maling..
Tidak kah kalian berpikir sebelum maling, bahwa apa yang kalian lakukan sangat merugikan bagi yang kalian maling..
Bertobatlah, maling..
Dengan mengambil hak orang lain tanpa izin, kalian tidak akan pernah jadi pribadi yang lebih baik lagi..
Bayangkan jika kalian berada di posisi korban..
Semoga Tuhan, memaafkan kalian :)
Minggu, 03 Januari 2016 Alasan Untuk Makan Di Warteg
Sabtu, 02 Januari 2016 Kebahagiaan Dari Masa Kecil
Rabu, 30 Desember 2015 Kalender Baruku
Rabu, 09 Desember 2015 Kuliah Gue Biasa Aja
Kampus lagi, kampus lagi.
Ya mau gimana namanya juga mahasiswa ceritanya ya ngga jauh-jauh dari itu.
Gue ini termasuk mahasiswa biasa aja di kampus, pinter engga bodo juga engga tapi ganteng.
Kegiatan gue di kampus selain belajar, ya engga belajar.
Gue tuh kalo di kelas suka bosen kalo lagi dengerin dosen ngomong. Apalagi kalo ada dosen yang udah ngomongin tentang masalah pribadinya di kelas.
"Eh, anak-anak tau ngga sih Pak Irwan dosen yang ngajar mata kuliah pengantar ilmu mistis kalian itu, kemarin bapak ketemu dia di jalan sambil klakson-klakson segala gitu. Padahal dia lagi jalan kaki."
Eh tau engga sih?? Engga tau ya?? Yaudah gue kasih tau nih kalo di kampus gue tuh ada banyak Ormawa (Organisasi Mahasiswa), paduan suara salah satunya. Gue ikut, tapi bukan berarti gue bisa nyanyi. Gue cuma ikut-ikutan terbawa arus, sampai akhirnya gue tenggelam. Ini semua gara-gara Setya Novanto!!
Engga bisa nyanyi, ikut paduan suara. Kalau sampai Addie MS tau pasti dia kecewa. Maafkeun saya Mas Addie.
Sayang, (Eh, belum apa-apa udah panggil sayang-sayang aja. Makasih) di kampus gue engga ada Ormawa khusus untuk mahasiswa-mahasiswa yang ganteng. Kalau ada juga gue engga bakal masuk kriteria sih.
Eh tau juga engga sih?? Engga tau juga ya?? Nih gue kasih tau lagi di kampus gue juga banyak mahasiswi-mahasiswi cantiknya, mata gue aja sampe bingung bedain mana yang cantik sama biasa aja.
Raisa mah lewat, Isyana juga lewat.
Iya, Mereka lewat depan kamus gue naik mobil. Kacanya item.
Nah, sekarang udah pada tau belom kalian dari tadi baca apa?? Bingung ya?? Sama.

