Jumat, 20 Juli 2018 Lagi kesel

Hari ini gue kesel, kesel banget.

Waktu yang selama ini gue tunggu-tunggu, waktu yang selama ini gue nanti-nanti malah bikin gue kecewa sekecewa cewanya

Minggu-minggu terakhir, sebelum akhir semester genap ini berakhir gue lagi rajin-rajinnya nyusun skripsi. Tidur gue kurangin, semua referensi udah gue hafalin, revisi gue kerjain dikasih revisi lagi gue kerjain lagi dikasih lagi masih gue kerjain dan sampe gue mau makan cuma kalo lagi laper doang.

Bolak-balik kampus, buat ketemu pembimbing. Bolak-balik perpus buat cari pendamping.

Hari selasa. Hari setelah senin, gue ketemu sama dosbing 1. Semua lancar,  gue cuma dikasih tau ada beberapa yang masih perlu ditambahkan untuk bab 2 nya. Dia kasih gue, referensi yang harus dimasukin ke dalamnya. Oke, gue masukin.

Lusanya, di hari kamis. Gue kasih ke dia hasil revisianya, dia minta ijin buat bawa skripsi gue pulang. Mau dibaca dulu, katanya.

Kemudian, ketemu lagi di hari selasa. Karena memang jadwal dia di kampus cuma hari selasa dan kamis. Orang sibuk. Dibalikin lagi skripsi gue dengan sedikit catatan. Setelah itu gue janji itu bakal gue perbaiki. Lalu, dengan sedikit berani gue minta ijin buat minta tanda tanganya di form bimbingan gue yang masih kosong itu. Dia langsung kasih 6 tanda tangan. Tanggalnya nanti kamu sesuaikan aja ya, kata dia. Gue seneng banget karena ini adalah minggu terakhir sebelum pendaftaraan untuk sidang skripsi ditutup dan akhirnya urusan dengan dosbing 1 udah kelar.

Di hari yang sama setelah gue dapet tanda tangan dari dosbing 1, gue langsung hubungin dosbing 2 buat ngajak bimbingan. Ternyata dia ngga bisa, lagi rapat katanya. Gue tanya lagi kapan bisanya, dia jawab besok jam 8.

Besoknya hari rabu. Gue kesiangan. Janjian jam 8 ketemunya jam 10. Di hari ini gue cuma kasih tau tentang udah sejauh mana perkembangan skripsi punya gue. Gue bilang, dosbing 1 udah setujui skripsi gue untuk lanjut ke tahap selanjutnya yaitu sidang. Oh, coba kamu baca dulu tujuan penelitiannya kata dia. Terus gue bacain. Masih ada yang kurang, kata dia. Sampe akhirnya gue dikasih revisi.

Di hari kamis. Ketemu lagi dosbing 2. Gue kasih revisianya gue baca lagi tujuan penelitianya dari awal sampai akhir. Gue jelasin lagi mulai dari bab 4 sampai tujuan penelitian. Hmmm. Masih ada yang kurang, katanya. Di bab 4 dan 5 masih ada yang kurang dan perlu ditambahi. Oke, kata gue. Di hari ini kurang lebih 3 jam gue bimbingan, bukan record yang terlama karena jauh sebelumnya ada yang lebih lama lagi.

Besoknya hari jumat. Hari dimana tulisan ini gue buat. Hari terakhir karena besoknya hari sabtu dosbing 2 ngga ke kampus sehingga menjadi hari terakhir buat gue bimbingan sebelum besok sabtunya gue punya niat buat daftar maju sidang skripsi.

Di tiga hari terakhir, sejak gue bimbingan bareng dosbing 2. Gue jarang tidur, begadang sampe pagi kerjain revisi. Jangan suuzon ya saya ini bukan mau pamer.

Masih di hari jumat, gue masih optimis bisa daftar sidang besok walaupun gue masih belum bikin daftar isi dan lain-lainnya itu. Gue ngomong di dalem hati yang penting skripsinya dulu gue kelarin.

Dimulai jam 10. Bimbingan ngebahas tentang bab 4 - 5. Gue jelasin apa yang gue tulis dan apa yang termaksud di dalamnya. Dosbing 2 kasih masukan, gue setujui atas masukannya. Bimbingan harus terpotong karena sudah ada azan untuk solat jumat. Gue tanya, dosbing 2 sampai jam berapa ada di kampus. Dia jawab sampai jam 4. Terus gue bilang nanti jam 2 mau ketemu dengan membawa hasil skripsi yang udah diperbaiki sesuai dengan sarannya. Baik, saya tunggu kata dia.

Jarum jam digital gue udah menunjukan waktu 14.00. Gue langsung inisiatif dateng ke ruangannya dan ternyata sudah ada 3 setelah gue masuk jadi ada 4 mahasiswa yang sedang antre untuk minta tanda tangan buat maju sidang. Giliran gue dipanggil, dan ternyata harus bawa hardcopynya kalau mau minta tanda tangan dosbing 2. Oke, gue lari ke tukang print, buka email lalu klik ctrl+p setelahnya gue lari lagi ke ruangan dosbing 2.

Belum gue kasih, tapi dia udah liat dari kejauhan.

Udah di-print skripsinya?

Udah

Lho, kok dikit sekali?

Ini sudah paling maksimal

Dia pegang skripsi gue, dibolak-balik diris tipis-tipis angkat lalu tiriskan.

Kamu punya buku panduan penelitian?

Ngga

Ini ngga sesuai, jumlah halamanya terlalu sedikit untuk sebuah penelitian kualitatif

Tapi, di luar negeri ada kok suatu penelitian yang isinya cuma 2 lembar aja

Itukan di luar negeri, kamu sekarang lagi ada di mana?

Oke

Coba kamu tanya dulu ke kaprodi, skripsi kamu ini diperbolehkan ngga

Di sini rasa optimis gue udah mulai terkikis, senyum gue udah mulai habis, gue berjalan keluar ruangan dengan sangat berat sambil gue liat-liat skripsi yang gue bawa sambil mengingat-ingat kenangan-kenangan bersamanya. Dari keujanan bareng sehabis ketemu dosbing 1 di luar kampus, tidur bareng, gue bawa mudik ke kampung halaman, gue rawat skripsi gue ini lebih dari motor yang gue punya dengan harapan esok bisa gue bawa maju di ruang sidang.

Di hadapan kaprodi gue ngga bisa apa-apa. Entah kenapa setiap argumen gue bisa dia sangkal. Pinter memang kaprodi gue. Dia itu insyinyur. Setiap omongan yang keluar dari mulutnya gue dengerin baik-baik sampai pada titik akhirnya dia bilang

Skripsi ini ngga bisa dilanjut

Kamu harus tambahkan dulu halamanya supaya sesuai dengan pedoman yang ada

Penelitian kualitatif ini penelitian yang susah, harus ada penjelasan di setiap  istilahnya

Gue diem. Kuping gue panas. Kepala gue berat. Bibir gue geter. Mata gue berkaca-kaca. Impian gue buat maju sidang esok langsung hilang seketika. Harapan-harapan dari orang tua terasa lebih berat dari sebelumnya. Usaha-usaha gue terasa sia-sia di hari ini.

Gue berjalan keluar ruangan kaprodi dengan langkah yang lebih berat dari sebelumnya. Tujuan gue bukan ke ruangan dosbing 2 buat laporin hasil pertemuan gue dengan kaprodi karena gue pikir mereka sudah tau jawabanya

Gue pulang.
 
Blogger Templates