Tanggal 2 mei diperingati sebagai hari pendidikan nasional. Dunia pendidikan tidak bisa dipisahkan dengan yang namanya guru, seperti pepatah yunani kuno pernah berkata bahwa "Kita harus belajar dari Pak pengalaman karna Pak pengalaman adalah guru terbaik"
Gue sendiri sudah masuk di dunia pendidikan dari usia 6 tahun, pada saat itu status gue masih sebagai siswa SD sampai dengan saat ini status gue masih (maha)siswa. Awal gue dapat gelar mahasiswa sebenernya antara nyangka dan engga karena sebelumnya kuliah itu cuma mimpi buat gue akibat seringnya nonton ftv pada saat itu, sampai akhirnya orang tua memutuskan untuk kuliah gue terharu dan seneng banget. Tapi.. setelah gue masuk kuliah ternyata apa yang gue impikan dan apa yang terjadi di dunia nyata itu berbeda, kuliah itu ngga seenak di ftv bro. Ketika kuliah hal yang pasti menghantui seorang mahasiswa adalah nilai ipk-nya
Bicara ipk hal yang sensitif buat mahasiswa, apalagi yang ipknya kecil ditanya dikit langsung pura-pura mengalihkan perhatian..
"Ngomong-ngomong ipk lu berapa?"
"Eeergh.. aaaa.. Wih ada cicak naik ufo tuh di atas!!"
"Mana-mana??!!"
"Yahh udah pergi, eh btw semalem emyu kalah lho.."
"...."
Beda dengan mahasiswa yang cumlaude dengan gaya rendah hati yang dibuat-buat dengan hasil transkrip nilai diupload di media sosialnya.
Hak untuk bangga dan tidak terhadap ipk memang adalah hak setiap warga negara. Namun perlu diingat bahwa memang baik meningkatkan nilai ipk, tapi lebih baik meningkatkan iman dan takwa *benerin peci*.
Aturan di kampus gue nilai ipk didapat dari akumulasi penilaian kuantitatif dari nilai tugas individu, tugas kelompok, kuis, uts dan uas yang rasio persentase pembagian nilainya berbeda setiap dosen. Tapi, yang gue bingung selama ini apakah itung-itungan yang kaya gitu dilakukan dengan ketat dan tepat? Hmm.. hanya tuhan dan dosen yang tau. Adanya ipk memang berfungsi untuk menjadi alat tolak ukur menilai kecerdasan berpikir seorang mahasiswa di kampus itu sejalan dengan pemikiran bahwa sesuatu yang tidak bisa diukur, tidak tampak dan tidak terlihat hanyalah ilusi sebab mereka baru percaya bahwa seseorang baru paham suatu mata kuliah jika ada indikatornya.
Untungnya orang tua gue tipe orang tua yang ngga terlalu memaksakan anaknya untuk mendapatkan nilai cumlaude walaupun gue tau di hati kecil mereka sebenernya pengin liat anaknya ini berprestasi di akademiknya. Huhuhu maafkan anakmu ini, Ma..
Gue sendiri sering blogwalking tentang mahasiswa-mahasiswa yang berhasil bangkit dari keterpurukan nilai ipk-nya tujuannya untuk memotivasi diri sendiri bahwa gue ngga hidup sendirian di dunia perkuliahan yang kejam ini. Haha
Erica Goldson pernah berkata di dalam pidato kelulusannya bahwa "Saya lulus. Seharusnya saya menganggapnya sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan terutama karena saya adalah lulusan terbaik di kelas saya. Namun, setelah direnungkan saya tidak bisa mengatakan kalau saya memang lebih pintar dibandingkan dengan teman-teman saya. Yang bisa saya katakan adalah kalau saya memang adalah yang terbaik dalam melakukan apa yang diperintahkan kepada saya dan juga dalam hal mengikuti sistem yang ada."
Artinya adalah menurut Erica Goldson untuk mendapatkan nilai bagus mahasiswa hanya harus melakukan hal yang sangat sederhana: turuti dosen. Kalau bisa, lakukan lebih dari yang mereka minta.
Apa yang gue lakukan di kampus saat ini memang belum memenuhi itu walaupun gue masih berusaha dengan menuruti apa yang dosen mau. Berangkat kuliah yang rajin, gue udah berangkat dari subuh. Disuruh buat makalah, gue buat. Dikasih tugas menganalisis artikel, gue kerjain. Bikin presentasi, yang ini emang gue jarang bikin karna ini. Huhuhu
Kuliah ini memang terlalu sayang kalo cuma buat ngejar ipk. Kesannya bahwa masa depan akan jadi lebih baik setelah lu mendapat nilai ipk yang tinggi. Dunia ngga sebercanda itu bro. Beberapa perusahaan memang membuat syarat yang ketat pada saat membuka lowongan pekerjaan, salah satunya ipk yang harus di atas 2,75 itu adalah strategi mereka untuk merekrut mahasiswa yang tidak malas. Karna seperti yang Erica Goldson bilang tadi yang intinya ya itu.
Sebenernya apapun jalan yang kita tempuh akan menghasilkan hasil yang baik jika konsisten. Karena hakikatnya setiap mahasiswa mempunyai mimpi yang berbeda-beda setelah lulus dari kuliahnya.